Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2006

Tunaikanlah Zakat

Sebuah bangunan yang kokoh, tentunya telah dirancang dan didesain dengan sangat terencana secara baik oleh pembuat bangunan. Di dalam desainnya telah ditentukan berapa tiang pancang yang akan dibuat untuk memperkokoh bangunan. Tiang-tiang ini harus dibangun sesuai dengan yang direncanakan apabila bangunan yang dibangun tidak ingin roboh. Bila terjadi perubahan pada tiang ini (misalnya tidak terpasang) salah satunya saja, maka bangunan tidak akan bertahan lama dan akhirnya roboh.

Demikian pula halnya dengan Islam, dalam sebuah hadist disebutkan :

“Islam dibangun di atas lima : Kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, haji ke Baitullah, dan puasa di bulan ramadhan”. (Muttafaq Alaih)

Dalam hadits tersebut jelas disebutkan tentang membayar zakat sebagai salah satu pilar yang membangun bangunan islam. Sehingga bangunan keislaman seseorang akan kokoh manakala pilar zakat ini juga telah ditunaikan. Ketika seseorang tidak melaksanakan zakat maka keislamannya tidak kokoh. Namun pada kenyataannya yang terjadi pada kebanyakan orang yang mengaku dirinya islam adalah kesalahpahaman dalam menunaikan zakat. Orang menyatakan telah berzakat ketika dia telah membayar zakat fitrah. Padahal konteks zakat yang dimaksudkan adalah tidak hanya zakat fitrah saja, melainkan lebih kepada zakat harta yang lebih banyak dilupakan oleh masyarakat islam. Sehingga orang tidak cukup dikatakan telah menunaikan zakat ketika dia hanya menunaikan zakat fitrah saja, tetapi dia juga harus menunaikan zakat harta/mal atas kepemilikan hartanya yang telah masuk nisab tentunya.

Zakat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap orang yang mengaku dirinya muslim. Barangsiapa menolak membayar zakat dengan tidak mengakui kewajibannya, maka dia adalah kafir. Dan barangsiapa menolak membayarnya karena kikir namun masih mengakui kewajibannya, maka ia berdosa besar dan zakat diambil darinya secara paksa dengan penerapan sanksi disiplin terhadapnya.

Allah SWT dalam firmanNya telah jelas memerintahkan untuk mengambil (secara paksa) zakat dari setiap orang yang mengaku dirinya islam.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS AT Taubah : 103)

Dari ayat tersebut jelas bahwa Allah menghendaki diambilnya zakat dari setiap orang islam. Menunaikan zakat bukan merupakan kesadaran yang harus dimiliki oleh setiap muslim, akan tetapi suatu kewajiban yang harus ditunaikan. Sehingga dalam pelaksanaannya harus ada sebuah lembaga resmi yang mampu untuk melaksanakan penarikan zakat tersebut. Idealnya lembaga ini adalah lembaga negara yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menanganinya. Disinilah peran pemerintah sebagai pemegang kekuasaan untuk melaksanakannya. Namun ironisnya sampai sekarang permasalahan zakat ini masih diserahkan kepada masyarakat (lembaga sosial) yang tentunya tidak memiliki kewenangan untuk menarik (secara paksa) kepada setiap kaum muslimin yang mampu.

Padahal apabila zakat ini dapat dikelola dengan baik oleh negara, maka negara dapat memanfaatkannya untuk mengatasi problematika sosial ekonomi yang ada. Seperti halnya mengurangi kemiskinan (bahkan menghilangkannya), membuka lapangan pekerjaan, mempersempit jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin yang sering menimbulkan kecemburuan sosial yang berdampak pada meningkatnya tingkat kejahatan dan kekerasan.

Sejarah telah membuktikan pada masa kekuasaan khalifah Umar bin Abdul Azis yang mampu mengelola zakat ini dengan baik, sehingga setiap rakyatnya tidak ada lagi yang berhak menerima zakat melainkan semuanya menjadi orang yang memberikan zakat. Zakat membawa kepada perekonomian negara yang maju dan stabil. Sungguh suatu teladan yang patut dijadikan contoh oleh negara kita yang sedang membenahi perekonomian negara dan rakyatnya.

Oleh karenanya mari kita tunaikan zakat !

Read Full Post »

Antara SIM dan KTP

Memang antara SIM dan KTP adalah dua hal yang berbeda, SIM adalah Surat Izin Mengemudi yang dikeluarkan oleh kepolisian, sedangkan KTP adalah Kartu Tanda Penduduk yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Namun keduanya bisa berfungsi sama sebagai kartu identitas (memiliki data dan nomor identitas). Bicara tentang kartu atau tanda identitas di negeri tercinta ini memang masih dalam upaya untuk bisa menyatukan berbagai kartu identitas yang ada menjadi sebuah kartu yang multifungsi. Nantinya diharapkan hanya akan ada nomor identitas tunggal yang bisa digunakan untuk berbagai fungsi baik untuk kependudukan seperti halnya KTP, untuk perizinan mengendarai kendaraan bermotor seperti halnya SIM, atau untuk keperluan lainnya yang membutuhkan adanya kartu atau tanda identitas.

Adanya satu nomor identitas ini sangat bermanfaat dalam pembuatan dan penggunaannya. Setiap orang cukup memiliki satu kartu identitas, sehingga memudahkan dalam pengurusannya, tidak repot dan membutuhkan waktu.

Bicara masalah waktu dalam pengurusan kartu identitas, ada pengalaman pribadi antara mengurus SIM dan KTP.

Ceritanya awal bulan Oktober ini, SIM dan KTP saya habis masa berlakunya, maka tanggal 28 September lalu saya berinisiatif untuk memperpanjang SIM saya di Polres Depok. Prosedur perpanjang SIM di Polres Depok cukup cepat (tidak seperti yang dikeluhkan masyarakat).

Saya datang ke Polres jam 09.00 dengan membawa fotocopy KTP, SIM, dan uang secukupnya. Sesampai di Polres, langsung menuju tempat pemeriksaan kesehatan dan langsung mendaftarkan diri dengan menyerahkan fotocopy KTP dan membayar uang sebesar Rp 15.000,- . Menunggu beberapa menit selanjutnya dipanggil untuk diperiksa kesehatan matanya. Selesai dari pemeriksaan kesehatan, selanjutnya membeli formulir pembuatan/perpanjang SIM di loket Bank yang ditunjuk. Di loket tersebut membayar uang sebesar Rp 60.000,- untuk perpanjang SIM (kalo buat SIM baru bayar Rp 75.000). Selesai dari loket pembayaran, dilanjutkan dengan melakukan pembayaran asuransi di loket asuransi sebesar Rp 15.000,- setelah itu melakukan pendaftaran di loket pendaftaran dengan terlebih dulu mengisi formulir dan melampirkan hasil pemeriksaan kesehatan dan bukti bayar asuransi. Kira-kira menunggu sekitar 30 menit dipanggil untuk melakukan pemotretan dan tidak sampai 15 menit SIM sudah bisa diambil. Total waktu yang dibutuhkan untuk membuat SIM kurang lebih 1 sampai 1,5 jam, karena jam 10.15 saya sudah bisa pulang.

Lain halnya ketika pengurusan KTP. Tanggal 1 Oktober yang lalu sekitar jam 17.00 saya mendatangi sekretaris RT untuk minta surat pengantar pengurusan KTP (prosedur yang harus dijalani ketika akan ke kelurahan). Sampai di tempatnya ternyata formulir surat pengantar habis, terpaksa harus menunggu di fotocopy dulu dan saya diminta datang kembali malam harinya. Akhirnya malam hari sekitar jam 20.30 saya datang lagi ke rumah sekretaris RT ternyata formulir sudah tersedia dan bisa diambil. Namun tidak sampai sini saja terus dapat langsung ke kelurahan untuk mengurus KTP, melainkan harus meminta tanda tangan dari ketua RW dengan membawa kartu keluarga. Setelah ditanda tangan ketua RW ternyata masih harus meminta nomor surat kepada sekretaris RW. Beruntungnya rumah ketua RW dan sekretarisnya berdekatan, sehingga bisa langsung.

Keesokan harinya tanggal 2 Oktober dengan berbekal surat pengantar, kartu keluarga, foto diri, dan uang secukupnya saya menuju ke kelurahan Depok Jaya untuk melanjutkan pengurusan KTP. Sesampai di kelurahan dan ditemui oleh petugas kelurahan ternyata masih ada yang kurang, kartu keluarga harus di foto copy. Terpaksa harus keluar dulu dari kelurahan untuk foto copy.

Kembali lagi ke kelurahan, petugas kelurahan memeriksa kembali persyaratan selanjutnya memberitahu kalau proses pembuatannya membuthkan waktu 3 hari dengan biaya formulir Rp 5000,- dan biaya administrasi terserah. Berarti baru bisa selesai tanggal 4 Oktober. Karena tidak jelas biaya administrasinya, saya keluarkan uang Rp 10.000,- dan petugas menerimanya dengan mengucapkan terima kasih.

Akhirnya tanggal 4 Oktober saya kembali ke kelurahan berharap KTP sudah selesai dan bisa diambil. Ternyata sampai di kelurahan KTP belum ditanda tangani oleh Kepala Kelurahan, terpaksa dech menunggu…. Hasil perjalanan panjang pembuatan KTP diakhiri dengan penyerahan KTP oleh petugas kelurahan kepada saya.

Demikian perbedaan pengurusan perpanjangan SIM dan KTP. SIM cukup beberapa jam saja, sedangkan KTP beberapa hari.

Read Full Post »