Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2008

Golkar dan Narapidana

“Golkar Ngotot Loloskan Bekas Narapidana” demikian judul koran tempo hari ini. Kalo baca isinya, terkesan Golkar sangat kukuh dalam memperjuangkan bekas narapidana untuk bisa menjadi calon anggota legislatif. Alasannya adalah hak politik seseorang semestinya pulih setelah menjalani hukuman pidana berat.

Sementara di undang-undang yang lain, syarat menjadi presiden, kepala daerah, anggota KPU harus tidak pernah jadi terpidana. Apakah hal ini menunjukkan bahwa Golkar tidak memiliki generasi yang bersih ? Mengingat banyak dari mantan aktivis (kader) Golkar yang masuk penjara. Akankah para narapidana yang notabene kader Golkar akan berusaha kembali lagi menjadi wakil rakyat? Sungguh suatu kerugian dan kemunduran bila mereka, para narapidana ini menjadi wakil rakyat. Sementara masih banyak orang berkemampuan lebih dari mereka dan bersih yang siap menjadi wakil rakyat. Sulitkah mencari sekitar 560 orang terbaik dari 220 juta penduduk?

Rasanya masih banyak orang terpelajar yang memiliki kemampuan dan kecakapan sebagai anggota legislatif dibandingkan para mantan narapidana.

Read Full Post »

Nasibmu Busway

Macet Transjakarta“Naik busway aja, biar cepet sampe di tempat”. Kata-kata itu dulu sering terdengar di telinga saya ketika orang merekomendasikan kepada temannya atau siapa saja yang minta saran jenis transportasi yang mudah dan cepat sampai di lokasi tujuan. Memang dulu ketika awal muncul, busway menjadi harapan pemecah kemacetan dan waktu tempuh bagi para pengguna jalan (transportasi) di Jakarta. Semakin meningkatnya jumlah kendaraan pribadi di jalanan Jakarta menjadi salah satu sumber terjadinya kemacetan. Oleh karenanya pemerintah mencoba terobosan baru dengan menerapkan busway (jalur khusus bus) yang hanya digunakan bus khusus (transjakarta) untuk melayani masyarakat pengguna transportasi. Harapannya transjakarta ini menjadi mode transportasi massa yang nyaman yang bisa menggantikan jenis transportasi lain (kendaraan pribadi) sehingga dapat memecahkan masalah kemacetan.
Namun pada kenyataannya justru sebaliknya. Pembangunan busway justru membuat tingkat kemacetan menjadi bertambah. Alih-alih mau mengurangi kemacetan, justru semakin macet. Upaya pemerintah mengambil kebijakan jalur khusus bus kemudian malah dilanggar sendiri dengan diijinkannya kendaraan lain untuk melewati jalur tersebut dengan alasan darurat (terjadi kemacetan yang luar biasa atau banjir). Ketegasan dari aparat untuk menerapkan aturan juga menjadi sumber semakin semrawutnya jalur busway ini. Sehingga wajar saja ketika orang sudah mulai beralih dari kendaraan pribadi untuk menggunakan transjakarta, namun ketika melihat realitas yang terjadi di lapangan (jalur khusus bus boleh digunakan kendaraan lain) justru tidak memenuhi kebutuhan masyarakat akan transportasi yang nyaman dan cepat sampai tujuan, membuat mereka kembali lagi beralih ke mode transportasi lama, yaitu menggunakan kendaraan pribadi. Hal inilah salah satu yang menyebabkan program pemerintah ini tidak berjalan dengan baik.
Ada sebuah cerita ketika koridor VI busway (Ragunan – Kuningan) ada. Pada awalnya masyarakat sangat antusias menggunakan transjakarta koridor ini, terutama mereka yang bermukim di Jakarta Selatan dan Depok. Mereka bisa mengakses mampang dan kuningan dengan cepat dan nyaman. Koridor ini merupakan jalur “gemuk”, mengingat jalur ini melewati banyak perkantoran. Selain itu juga berdampak pada pemasukan parkir bagi Kebun Binatang Ragunan (yang biasanya rame di hari libur saja), para pengguna transjakarta asal Jakarta Selatan dan Depok dan sekitarnya banyak yang memanfaatkan parkir Kebun Binatang Ragunan untuk memarkir kendaraannya. Selanjutnya mereka akan meneruskan perjalanan ke kantor menggunakan transjakarta dari terminal Ragunan.
Awalnya memang koridor ini sangat membantu para pekerja untuk menuju tempat kerjanya. Waktu tempuh dari Ragunan ke Kuningan dapat dicapai sekitar 30 menit. Sebuah perjalanan yang ideal. Namun kini perjalanan itu harus ditempuh dengan jangka waktu yang lama sekitar 2 jam. Disamping harus antri dan menunggu bus yang lama di terminal atau halte, juga harus berjubel di dalam bus. Sebuah hal yang wajar jika kemudian orang mulai beralih tidak menggunakan transjakarta lagi. Kenyamanan dan ketepatan waktu yang dulu dijanjikan, kini sudah tidak sesuai lagi. Jalur koridor VI selalu diterobos oleh kendaraan lain selain transjakarta. Sementara pak polisi dan petugas dishub hanya bisa melihat saja. Semoga hal ini bisa membuka mata, hati dan pikiran pengambil kebijakan kota Jakarta, bahwa sebuah kebijakan harus dipertimbangkan secara cermat dan tepat serta dilaksanakan sesuai dengan komitmen.

Read Full Post »