Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Budaya’ Category

Open House apa Open Jail ?

Selain mudik, istilah Open House ketika lebaran sepertinya sudah sangat mentradisi di Indonesia. Terutama di kalangan para pejabat, tidak hanya di tingkat pusat melainkan juga sampai ke daerah pelosok negeri. Tujuannya utama diadakan open house tentunya sebagai ajang silaturahim, namun tidak menutup kemungkinan ada tujuan lagi. Karena memang silaturahim mengandung hikmah yang luas. Tidak saja hanya sebagai menyambung tali persaudaraan dan saling memaafkan, melainkan bisa dijadikan sarana untuk konsolidasi, memperkuat hubungan bisnis dan lain sebagainya.

Demikian halnya yang terjadi dengan mantan menteri kelautan dan perikanan Rokhmin Dahuri. Meskipun masih berada dalam tahanan di LP Cipinang, beliau tetap bisa mengadakan acara open house. Mungkin lebih tepatnya “Open Jail” … ya. Karena tidak dilaksanakan di rumah melainkan di penjara. Terus bagaimana dengan tahanan lainnya? Apakah mereka juga bisa melakukan acara istimewa yang sama? Keterangan lebih lengkapnya bisa ditanyakan ke LP Cipinang J

Informasi diperoleh dari detik foto

Read Full Post »

Keraton Surakarta

Kesempatan mudik lebaran tahun ini selain pulang ke kota Batang, dimanfaatkan untuk jalan-jalan ke Surakarta. Kota yang dikenal dengan nama Solo ini merupakan kota budaya yang ditandai dengan adanya Keraton Kasunanan Surakarta dan Puro Mangkunegaran. Bersama keluarga besar kita berkunjung ke Keraton Surakarta.

Keraton Kasunanan atau Keraton Surakarta Hadiningrat didirikan oleh Sultan Pakubuwono II. Ditilik secara mendasar, keseluruhan desain bangunan keraton mengikuti pola bangunan dan tata letak keraton-keraton Jawa sebelumnya, yaitu membujur dari utara ke selatan. Masuk dari alun-alun Lor, setelah membeli tiket tanda masuk dan mengajak seorang pemandu, kita akan memasuki sebuah bangunan yang disebut dengan Sasono Sumewo. Melangkah beberapa langkah ke selatan terdapat bangunan yang letaknya lebih tinggi dari bagian lainnya yang disebut dengan Siti Hinggil, disinilah tempat duduk Sinuhun atau raja ketika merayakan grebegan.

Keluar dari Siti Hinggil ke arah selatan kita melewati dua pintu yang dinamakan Kori Renteng dan Kori Mangu (renteng = pertentangan dalam hati, mangu = ragu-ragu). Seterusnya kita menemui pintu raksasa dari kayu yang dinamakan Kori Brodjonolo Lor. Kata Brodjonolo mengandung arti yaitu brodjo artinya gaman (senjata) yang sangat tajam, sedangkan nolo artinya pikir. Jadi arti yang terkandung di dalamnya, kalau kita mau melewati pintu ini kita diminta agar segala sesuatu harus kita pikirkan dalam-dalam dulu, dengan kata lain kita diminta selalu waspada.

Melalui pintu masuk Brodjonolo ini kita sampai di pelataran yang dinamakan Pelataran Kamandungan, disebelah kiri dan kanan pelataran ada dua barak. Di belakang kori Kamandungan ini terdapat suatu pelataran yang disebut Sri Manganti. Namun pada kesempatan ini wisatawan harus melalui pintu timur melewati museum keraton untuk bisa masuk ke pelataran keraton. Pintu masuk ditandai dengan patung Sinuhun Pakubuwono X di depan Sidikoro dan dibelakangnya terdapat Panti Pidono, yang dipergunakan untuk mengadili kerabat keraton yang bersalah dan perlu dihukum.

SonggobuwonoLewat museum keraton ini kita dapat masuk ke pelataran keraton dengan melepas terlebih dahulu alas kaki kita. Melangkah masuk ke pelataran keraton akan dijumpai hamparan pasir dan rimbunnya pohon sawo kecik. Di pelataran ini terdapat menara yang disebut dengan Panggung Songgobuwono. Menara ini menurut pemandu digunakan untuk semedi raja dan bertemu dengan Nyai Ratu Roro Kidul, penguasa pantai selatan. Terlepas benar-tidaknya mitos itu, sesungguhya Panggung Songgobuwono merupakan alat pelengkap benteng pertahanan.

Di pelataran dalam akan kita jumpai sebuah pendopo besar yang dinamakan Pendopo Ageng Sasonosewoko. Di sebelah kanan pendopo Sasonosewoko terdapat bangunan yang semua dindingnya terbuat dari kaca, yang dinamakan Sasono Hondrowino. Tempat ini dipakai untuk menjamu tamu.

sasonosewoko.jpgSasono Hondrowino
Setelah menjelaskan panjang lebar seluk beluk Keraton Surakarta, akhirnya pemandu mempersilahkan kita untuk berkunjung ke museum Keraton. Di dalamnya disuguhi koleksi benda-benda peninggalan keraton yang langka dan unik. Di antaranya berbagai senjata pusaka, patung dan arca batu, koleksi aneka wayang, lukisan, pakaian resmi raja-raja, perangkat gamelan, beberapa kereta kencana dan lain-lain. Terkadang benda-benda itu dijuluki dengan nama kehormatan semisal Kiai, Nyai, ataupun Kanjeng Kiai

Demikian sekelumit kunjungan ke Keraton Surakarta Hadiningrat.

Read Full Post »

Riyayan

Dalam masyarakat jawa sering kita temui tradisi yang mengiringi hari besar islam, misalnya grebeg maulud di Yogya yang menandai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang didalamnya juga ada acara sekatenan. Demikian pula halnya yang terjadi di dusun Bangunsari Timur Kabupaten Batang Jateng, setiap Idul Fitri tiba selalu dirayakan dengan mengadakan acara Riyayan. Berasal dari kata Riyoyo yang berarti Idul Fitri atau Lebaran.

Riyayan

Acara Riyayan sendiri dimulai setelah sholat ied selesai. Riyayan merupakan ajang silaturahim sanak saudara dan tetangga di lingkungan Bangunsari Timur, termasuk para perantau yang mudik ke kampung di hari lebaran.

Sekembali dari Sholat Ied, para warga kembali lagi ke mesjid dengan membawa berbagai jenis makanan, dari makanan khas lebaran seperti ketupat, lontong opor, sampai makanan kue-kue lainnya sebagai hidangan bersama. Setelah semua berkumpul, maka acara dimulai dengan sambutan dari tokoh masyarakat yang dilanjutkan dengan doa bersama. Rasa kebersamaan sangat terasa ketika doa telah selesai dan para hadirin dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia. Anak-anak saling berebut memilih makanan sesuai kesukaannya.

Read Full Post »

Masjid Keramat di Jakarta

 

Masjid Kampung BandanDalam sebuah kesempatan, saya berkunjung ke Masjid Kampung Bandan, terletak di tepi jalan Lodan Raya, Kelurahan Ancol, Pademangan Jakarta Utara. Masjid yang tampak sederhana ini dianggap sebagai masjid keramat yang menyimpan jejak sejarah penyebaran islam di Jakarta.

Di komplek masjid ini terdapat tiga makam yang menurut penjaga masjid Makam K Bandansebagai makam tertua sehingga dikeramatkan, yaitu makam Habib Mohammad bin Umar Alqudsi (wafat 23 muharam 1118 H) makam Habib Ali bin Abdurrahman Ba’alwi (wafat 15 ramadhan 1122 H), dan makam Habib Abdurrahman bin Alwi Asysyathri (wafat 18 muharam 1326 H).

Masjid Luar BatangSelain itu ada juga makam keramat yang terletak di daerah perkampungan Luar Batang kelurahan Penjaringan Jakarta Utara, berdekatan dengan pelabuhan sunda kelapa, tepatnya di Masjid Keramat Luar Batang. Walaupun masjid Luar Batang ini merupakan cagar budaya, namun bagunan masjid telah mengalami pemugaran secara total. Sehingga bentuk dari masjid ini merupakan bentuk arsitektur modern.

Di Masjid Keramat Luar Batang ini terdapat makam yang dikeramatkan yaitu makam HabibMakam Luar Batang Husein bin Abu Bakar Alaydrus yang meninggal 1756 M. Makam ini dikeramatkan oleh para peziarah, terbukti dengan selalu ramainya para peziarah dari berbagai kota atau daerah yang berkunjung. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang menginap untuk dapat lebih lama melakukan ritual di makam tersebut.

Read Full Post »