Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Islam’ Category

Riyayan

Dalam masyarakat jawa sering kita temui tradisi yang mengiringi hari besar islam, misalnya grebeg maulud di Yogya yang menandai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang didalamnya juga ada acara sekatenan. Demikian pula halnya yang terjadi di dusun Bangunsari Timur Kabupaten Batang Jateng, setiap Idul Fitri tiba selalu dirayakan dengan mengadakan acara Riyayan. Berasal dari kata Riyoyo yang berarti Idul Fitri atau Lebaran.

Riyayan

Acara Riyayan sendiri dimulai setelah sholat ied selesai. Riyayan merupakan ajang silaturahim sanak saudara dan tetangga di lingkungan Bangunsari Timur, termasuk para perantau yang mudik ke kampung di hari lebaran.

Sekembali dari Sholat Ied, para warga kembali lagi ke mesjid dengan membawa berbagai jenis makanan, dari makanan khas lebaran seperti ketupat, lontong opor, sampai makanan kue-kue lainnya sebagai hidangan bersama. Setelah semua berkumpul, maka acara dimulai dengan sambutan dari tokoh masyarakat yang dilanjutkan dengan doa bersama. Rasa kebersamaan sangat terasa ketika doa telah selesai dan para hadirin dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia. Anak-anak saling berebut memilih makanan sesuai kesukaannya.

Read Full Post »

Tunaikanlah Zakat

Sebuah bangunan yang kokoh, tentunya telah dirancang dan didesain dengan sangat terencana secara baik oleh pembuat bangunan. Di dalam desainnya telah ditentukan berapa tiang pancang yang akan dibuat untuk memperkokoh bangunan. Tiang-tiang ini harus dibangun sesuai dengan yang direncanakan apabila bangunan yang dibangun tidak ingin roboh. Bila terjadi perubahan pada tiang ini (misalnya tidak terpasang) salah satunya saja, maka bangunan tidak akan bertahan lama dan akhirnya roboh.

Demikian pula halnya dengan Islam, dalam sebuah hadist disebutkan :

“Islam dibangun di atas lima : Kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, haji ke Baitullah, dan puasa di bulan ramadhan”. (Muttafaq Alaih)

Dalam hadits tersebut jelas disebutkan tentang membayar zakat sebagai salah satu pilar yang membangun bangunan islam. Sehingga bangunan keislaman seseorang akan kokoh manakala pilar zakat ini juga telah ditunaikan. Ketika seseorang tidak melaksanakan zakat maka keislamannya tidak kokoh. Namun pada kenyataannya yang terjadi pada kebanyakan orang yang mengaku dirinya islam adalah kesalahpahaman dalam menunaikan zakat. Orang menyatakan telah berzakat ketika dia telah membayar zakat fitrah. Padahal konteks zakat yang dimaksudkan adalah tidak hanya zakat fitrah saja, melainkan lebih kepada zakat harta yang lebih banyak dilupakan oleh masyarakat islam. Sehingga orang tidak cukup dikatakan telah menunaikan zakat ketika dia hanya menunaikan zakat fitrah saja, tetapi dia juga harus menunaikan zakat harta/mal atas kepemilikan hartanya yang telah masuk nisab tentunya.

Zakat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap orang yang mengaku dirinya muslim. Barangsiapa menolak membayar zakat dengan tidak mengakui kewajibannya, maka dia adalah kafir. Dan barangsiapa menolak membayarnya karena kikir namun masih mengakui kewajibannya, maka ia berdosa besar dan zakat diambil darinya secara paksa dengan penerapan sanksi disiplin terhadapnya.

Allah SWT dalam firmanNya telah jelas memerintahkan untuk mengambil (secara paksa) zakat dari setiap orang yang mengaku dirinya islam.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS AT Taubah : 103)

Dari ayat tersebut jelas bahwa Allah menghendaki diambilnya zakat dari setiap orang islam. Menunaikan zakat bukan merupakan kesadaran yang harus dimiliki oleh setiap muslim, akan tetapi suatu kewajiban yang harus ditunaikan. Sehingga dalam pelaksanaannya harus ada sebuah lembaga resmi yang mampu untuk melaksanakan penarikan zakat tersebut. Idealnya lembaga ini adalah lembaga negara yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menanganinya. Disinilah peran pemerintah sebagai pemegang kekuasaan untuk melaksanakannya. Namun ironisnya sampai sekarang permasalahan zakat ini masih diserahkan kepada masyarakat (lembaga sosial) yang tentunya tidak memiliki kewenangan untuk menarik (secara paksa) kepada setiap kaum muslimin yang mampu.

Padahal apabila zakat ini dapat dikelola dengan baik oleh negara, maka negara dapat memanfaatkannya untuk mengatasi problematika sosial ekonomi yang ada. Seperti halnya mengurangi kemiskinan (bahkan menghilangkannya), membuka lapangan pekerjaan, mempersempit jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin yang sering menimbulkan kecemburuan sosial yang berdampak pada meningkatnya tingkat kejahatan dan kekerasan.

Sejarah telah membuktikan pada masa kekuasaan khalifah Umar bin Abdul Azis yang mampu mengelola zakat ini dengan baik, sehingga setiap rakyatnya tidak ada lagi yang berhak menerima zakat melainkan semuanya menjadi orang yang memberikan zakat. Zakat membawa kepada perekonomian negara yang maju dan stabil. Sungguh suatu teladan yang patut dijadikan contoh oleh negara kita yang sedang membenahi perekonomian negara dan rakyatnya.

Oleh karenanya mari kita tunaikan zakat !

Read Full Post »